Di tengah berbagai cerita tentang dunia pendidikan, ada kisah sederhana yang justru mampu menyentuh banyak hati. Kisah itu datang dari Riska Andriani, seorang guru yang mengajar di SD Kecil Ogolau, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Bukan karena fasilitas sekolah yang mewah atau prestasi besar yang diraihnya, Riska menjadi perhatian. Ia dikenal karena kepeduliannya kepada murid-murid yang ia temui setiap hari.
Melihat sejumlah anak datang ke sekolah tanpa bekal dan uang jajan, Riska memilih melakukan sesuatu yang sederhana: memasak dan menyediakan makanan untuk para siswanya.
{getToc} $title={Daftar Isi}
Berawal dari Kepedulian kepada Murid
Riska mengajar di SD Kecil Ogolau yang berada di wilayah Desa Tibu, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong. Sekolah tersebut berada di kawasan perbukitan dengan akses yang tidak mudah.
Dalam kesehariannya, Riska melihat langsung kondisi para siswa. Ada anak yang datang tanpa bekal, sementara sebagian lainnya hanya membawa makanan sederhana dari rumah.
Situasi tersebut membuat Riska tergerak. Awalnya, ia menggunakan dana pribadi untuk membeli susu dan makanan ringan bagi anak-anak.
Namun, cerita sederhana itu kemudian berkembang setelah Riska membagikan kegiatannya melalui media sosial. Sejumlah teman dan pengikutnya ikut tergerak untuk membantu. Dari sinilah kegiatan “Masakan Bu Guru” mulai berkembang.
MBG “Masakan Bu Guru” untuk Anak-Anak di Pelosok
Riska menegaskan bahwa makanan yang ia siapkan bukan bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.
Kegiatan tersebut dilakukan secara mandiri dengan dukungan donasi dari orang-orang yang ingin membantu. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli bahan makanan dan berbagai kebutuhan pendukung.
Dalam satu kegiatan, Riska dan pihak yang membantu dapat menyiapkan sekitar 40 porsi makanan untuk para siswa. Menu yang disiapkan pun sederhana, seperti nasi ayam, nasi telur, hingga nasi kuning.
Bagi Riska, kegiatan tersebut bukan tentang membuat sesuatu yang sempurna. Ia hanya ingin anak-anak mendapatkan perhatian dan bisa menikmati makanan bersama teman-temannya di sekolah.
Tantangan Guru di Sekolah Terpencil
![]() |
| Akses setapak menuju sekolah (Dok. Istimewa) |
Lokasi sekolah berada di kawasan pegunungan dan akses menuju sekolah cukup sulit. Pemberitaan mengenai kisahnya menyebut medan menuju sekolah harus melewati jalan yang terjal dan kawasan yang tidak mudah dilalui kendaraan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menghadirkan berbagai layanan, termasuk distribusi program makanan ke sekolah.
Namun, keterbatasan akses tidak membuat Riska berhenti menjalankan perannya sebagai guru.
Ketika Kepedulian Menjadi Inspirasi
Hal yang paling menarik dari kisah Riska Andriani sebenarnya bukan sekadar makanan yang ia siapkan.
Lebih dari itu, ada sebuah nilai penting yang bisa dipetik: kepedulian kecil dapat memberikan dampak besar ketika dilakukan dengan tulus.
Riska tidak memulai gerakannya dengan fasilitas besar. Ia memulainya dari apa yang ia miliki dan dari apa yang ia lihat di sekitarnya.
Kemudian, kepedulian tersebut menggerakkan orang lain untuk ikut membantu. Donasi dari teman-teman dan pengikut di media sosial membuat kegiatan tersebut bisa berjalan lebih luas.
![]() |
| Foto Riska Andriani bersama Siswa SD Kecil Terpencil Ogolau, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Dok. Istimewa) |
Harapan untuk Pendidikan di Pelosok
Riska berharap program makanan bergizi juga dapat menjangkau sekolah-sekolah yang berada jauh di pelosok.
Menurutnya, persoalan akses dan ketersediaan fasilitas memang menjadi tantangan. Karena itu, pemerataan program pendidikan dan pemenuhan kebutuhan anak sekolah di daerah terpencil menjadi hal yang penting untuk terus diperhatikan.
Kisah Riska menjadi pengingat bahwa di balik keterbatasan sebuah sekolah, ada guru yang tetap berusaha menghadirkan harapan.
Ia mungkin hanya seorang guru di sekolah kecil. Namun, bagi murid-muridnya, perhatian sederhana dari seorang guru bisa menjadi pengalaman yang akan mereka ingat dalam waktu lama.
Kisah Riska Andriani mengajarkan satu hal sederhana: menjadi guru bukan hanya tentang mengajar pelajaran, tetapi juga tentang hadir ketika murid membutuhkan.


